Membuat storyboard tidak selalu mudah, terutama bagi orang yang memiliki gambaran adegan di kepala tetapi kesulitan menuangkannya menjadi gambar. Tidak semua orang bisa menggambar secara manual, terbiasa menggunakan tablet atau iPad, atau memiliki kemampuan ilustrasi untuk membuat setiap frame sesuai dengan bayangan visualnya.
Di sinilah storyboard AI dapat membantu.
Dengan bantuan artificial intelligence, ide adegan atau deskripsi visual dapat diubah menjadi gambar yang dapat digunakan sebagai referensi frame storyboard. Beberapa platform bahkan dapat membantu mengubah script atau brief menjadi rangkaian scene dan frame secara lebih terstruktur.
Sebelum membahas penggunaannya lebih jauh, Anda dapat memahami terlebih dahulu mengenai storyboard dan perannya dalam produksi melalui artikel storyboard.
Namun, AI bukan berarti seseorang cukup mengetik satu kalimat lalu seluruh storyboard otomatis siap digunakan untuk produksi. Ada proses memilih, mengarahkan, memperbaiki, dan memastikan setiap frame tetap sesuai dengan kebutuhan visual.

Kenapa Membuat Sketsa Storyboard Bisa Menjadi Tantangan?
Secara konsep, storyboard memang sederhana: menggambarkan apa yang akan terlihat dalam sebuah shot.
Masalahnya muncul ketika seseorang harus menggambar visual tersebut.
Misalnya dalam sebuah script terdapat adegan:
Seorang pekerja berjalan keluar dari area pabrik. Kamera mengikuti dari belakang dengan latar bangunan industri di pagi hari.
Seorang director atau filmmaker mungkin sudah dapat membayangkan framing-nya. Tetapi belum tentu ia bisa menggambar sosok manusia, perspektif bangunan, posisi kamera, hingga komposisi frame tersebut secara manual.
Bahkan jika memiliki iPad atau laptop, kemampuan menggunakan perangkat digital untuk menggambar tetap membutuhkan waktu untuk dipelajari.
Akibatnya, ide visual yang sebenarnya sudah jelas di kepala belum tentu dapat diterjemahkan menjadi storyboard yang mudah dipahami oleh orang lain.
AI dapat digunakan untuk menjembatani masalah tersebut.
Apa Itu Storyboard AI?
Storyboard AI adalah penggunaan teknologi artificial intelligence untuk membantu mengubah ide, deskripsi adegan, script, atau brief menjadi visual yang dapat digunakan dalam storyboard.
Cara kerjanya dapat berbeda-beda tergantung platform. Ada yang berfokus pada pembuatan gambar dari text prompt, sementara platform storyboard khusus dapat mengubah script menjadi scene dan frame, kemudian membantu menghasilkan gambar untuk setiap frame.
Jadi, storyboard AI bukan sekadar AI untuk membuat gambar.
Tujuan akhirnya adalah membantu seseorang memahami bagaimana sebuah cerita atau konsep akan terlihat secara visual dari satu shot ke shot berikutnya.
Bagaimana AI Membantu Membuat Sketsa Frame?
Penggunaan paling sederhana adalah ketika seseorang sudah mengetahui adegan yang ingin dibuat, tetapi tidak dapat menggambarnya.
Misalnya Anda ingin membuat frame dengan konsep:
Seorang pria berjalan keluar dari gedung pabrik, kamera mengikuti dari belakang, wide shot, suasana pagi, cinematic.
Deskripsi tersebut dapat dimasukkan ke AI image generator atau platform storyboard yang memiliki fitur AI.
AI kemudian menghasilkan visual berdasarkan deskripsi tersebut.
Hasilnya mungkin belum langsung sempurna. Bisa saja posisi talent kurang tepat, bentuk bangunan berbeda dari yang dibayangkan, atau framing belum sesuai.
Tetapi dibandingkan harus menggambar semuanya dari awal, gambar tersebut dapat menjadi visual reference yang kemudian diperbaiki atau dipilih sesuai kebutuhan.
Inilah salah satu alasan storyboard AI menarik bagi orang yang tidak memiliki kemampuan menggambar.

Dari Satu Gambar Menjadi Beberapa Shot
Storyboard sebenarnya bukan sekadar kumpulan gambar yang bagus.
Dalam produksi video, satu adegan dapat membutuhkan beberapa shot.
Contohnya:
Shot 1 — Wide Shot
Memperlihatkan keseluruhan area pabrik.
Shot 2 — Medium Shot
Memperlihatkan talent berjalan menuju pintu.
Shot 3 — Close Up
Memperlihatkan tangan talent membuka pintu.
Shot 4 — Over The Shoulder
Kamera berada di belakang talent ketika melihat area produksi.
Dengan AI, setiap shot tersebut dapat divisualisasikan menjadi frame yang berbeda.
Beberapa platform storyboard AI bahkan menyediakan pendekatan yang lebih terstruktur, seperti memecah script menjadi scene, menentukan frame, membuat visual, dan menyusun hasilnya menjadi storyboard.
Artinya, AI tidak hanya membantu menggambar satu frame, tetapi juga dapat mempercepat proses memvisualisasikan rangkaian shot.

Apakah Harus Bisa Menggambar untuk Membuat Storyboard?
Tidak.
Kemampuan menggambar tetap merupakan kelebihan, tetapi bukan satu-satunya cara untuk membuat storyboard.
Storyboard pada dasarnya digunakan untuk mengkomunikasikan visual. Karena itu, gambar yang sederhana sekalipun dapat berguna selama mampu menunjukkan informasi penting dalam shot.
AI memberikan alternatif bagi orang yang tidak nyaman menggambar secara manual.
Daripada menggambar karakter, lokasi, perspektif, dan komposisi dari nol, pengguna dapat menjelaskan apa yang ingin dilihat dalam frame lalu menggunakan hasil AI sebagai dasar visual.
Tetapi ada satu hal yang tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI: keputusan mengenai apa yang sebenarnya ingin ditampilkan dalam shot.
AI dapat membantu menghasilkan gambar. Manusia tetap perlu menentukan apakah gambar tersebut benar-benar mewakili kebutuhan adegan.
AI Storyboard Generator vs AI Image Generator
Keduanya memang berhubungan, tetapi tidak selalu memiliki fungsi yang sama.
AI image generator pada dasarnya berfokus pada menghasilkan sebuah gambar berdasarkan instruksi yang diberikan.
Sementara AI storyboard generator dirancang dengan konteks storyboard yang lebih spesifik. Beberapa platform dapat membantu menyusun script menjadi scene, membuat frame secara berurutan, menghubungkan karakter atau elemen visual, serta menempatkan gambar tersebut ke dalam storyboard.
Sebagai gambaran:
| Kebutuhan | AI Image Generator | AI Storyboard Generator |
| Membuat satu gambar | ✓ | ✓ |
| Mengubah deskripsi menjadi visual | ✓ | ✓ |
| Menyusun beberapa frame | Perlu dilakukan manual | ✓ |
| Menghubungkan frame dengan scene | Terbatas | ✓ pada platform tertentu |
| Mengolah script menjadi storyboard | Umumnya bukan fungsi utama | ✓ pada platform tertentu |
Jadi, jika kebutuhan Anda hanya membuat satu visual referensi, AI image generator mungkin sudah cukup.
Tetapi jika Anda ingin mengubah script atau konsep menjadi rangkaian visual yang lebih terstruktur, platform khusus storyboard dapat lebih sesuai.

Contoh AI yang Bisa Membantu Membuat Storyboard
Saat ini tersedia berbagai platform yang menawarkan kemampuan AI untuk membantu proses storyboarding. Fitur masing-masing dapat berbeda dan terus berkembang.
- Boords
Boords menyediakan workflow yang menghubungkan script dengan storyboard. Script dapat diubah menjadi struktur scene dan frame, kemudian pengguna dapat menghasilkan atau memasukkan gambar untuk frame tersebut.
Platform ini lebih berorientasi pada workflow storyboard dibandingkan sekadar membuat satu gambar. Informasi mengenai fitur script-to-storyboard dapat dilihat melalui dokumentasi resmi Boards.
- LTX Studio
LTX Studio menyediakan pendekatan yang lebih luas untuk visual development. Pengguna dapat bekerja dengan konsep, scene, shot, karakter, objek, dan lokasi dalam satu workflow visual.
Pendekatan seperti ini dapat membantu ketika kebutuhan bukan hanya membuat satu gambar, tetapi mengembangkan konsep visual menjadi beberapa bagian yang saling berhubungan.
- StoryboardAI.ai
StoryboardAI.ai secara khusus menawarkan workflow untuk mengubah script, scene brief, konsep iklan, atau shot notes menjadi visual storyboard. Platform ini juga menempatkan hasilnya dalam konteks shot sequence dan kebutuhan pre-production, sehingga bukan hanya berfokus pada pembuatan satu gambar.
- Storyboarder.ai
Storyboarder.ai menawarkan workflow yang lebih lengkap dari script atau ide hingga shot list, storyboard, dan animatic. Platform ini juga menyediakan fitur seperti character consistency, pengaturan camera angle, serta sketch-to-image untuk mengembangkan sketsa kasar menjadi panel storyboard.
Kelima contoh tersebut menunjukkan bahwa AI untuk storyboard tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Ada yang lebih cocok untuk menghasilkan visual, sementara platform lainnya dirancang untuk membantu mengatur rangkaian shot dan kebutuhan pre-production.
Karena fitur AI terus berkembang, kemampuan dan harga masing-masing platform juga dapat berubah dari waktu ke waktu.
Apa yang Perlu Ditulis agar AI Menghasilkan Frame yang Sesuai?
Hasil AI sangat bergantung pada informasi yang diberikan.
Jika hanya menulis:
“Orang berjalan di pabrik.”
Hasilnya bisa sangat umum.
Tetapi jika informasi visualnya lebih lengkap, AI memiliki lebih banyak konteks untuk menghasilkan gambar yang mendekati kebutuhan.
Misalnya:
“Seorang pekerja pria berjalan keluar dari area produksi pabrik, kamera mengikuti dari belakang, wide shot, bangunan industri terlihat di sisi frame, suasana pagi, cinematic documentary style.”
Informasi yang dapat membantu antara lain:
- Subject — siapa atau apa yang terlihat.
- Action — apa yang sedang dilakukan.
- Location — di mana adegan berlangsung.
- Shot size — wide shot, medium shot, close-up, dan sebagainya.
- Camera angle — posisi atau sudut kamera.
- Composition — bagaimana subjek ditempatkan dalam frame.
- Mood — suasana visual yang ingin ditampilkan.
- Style — misalnya realistic, sketch, illustration, atau cinematic.
Semakin jelas kebutuhan visualnya, semakin mudah pula hasil AI diarahkan.
Namun, bukan berarti prompt harus dibuat sangat panjang. Yang lebih penting adalah informasi yang diberikan memang relevan dengan shot.

Bagaimana Menjaga Karakter Tetap Konsisten?
Salah satu tantangan ketika menggunakan AI untuk storyboard adalah konsistensi.
Misalnya pada frame pertama seorang talent menggunakan seragam biru. Ketika membuat frame kedua, wajah, pakaian, atau bentuk tubuhnya dapat berubah.
Hal yang sama dapat terjadi pada lokasi, kendaraan, properti, atau elemen visual lainnya.
Karena storyboard biasanya terdiri dari banyak frame, masalah seperti ini dapat mengganggu kesinambungan visual.
Beberapa platform menyediakan fitur reference atau character consistency untuk membantu mempertahankan karakter dan elemen visual dari satu frame ke frame berikutnya.
Tetapi tetap diperlukan pengecekan manusia. Jangan langsung menganggap semua frame sudah konsisten hanya karena dibuat menggunakan satu platform.
Apakah Hasil Storyboard AI Bisa Langsung Dipakai untuk Shooting?
Bisa menjadi referensi, tetapi tidak selalu berarti hasilnya sudah siap digunakan sebagai acuan final shooting.
Misalnya AI menghasilkan gambar seorang talent sedang berjalan. Secara visual gambar tersebut terlihat bagus, tetapi belum tentu menjelaskan:
- posisi kamera sebenarnya,
- arah pergerakan talent,
- focal length,
- blocking,
- arah cahaya,
- ukuran area yang tersedia,
- atau kondisi lokasi sebenarnya.
Karena itu, hasil AI sebaiknya dipandang sebagai visual reference yang membantu menerjemahkan ide.
Untuk produksi profesional, frame tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan shooting yang sebenarnya.
AI Membantu Menggambar, Bukan Menggantikan Keputusan Visual
Ini bagian yang penting.
Jika seseorang tidak bisa menggambar, AI dapat membantu membuat visual.
Jika seseorang sudah memiliki gambar kasar, AI dapat membantu mengembangkan visual tersebut.
Jika seseorang memiliki script tetapi belum dapat membayangkan bentuk frame-nya, AI dapat membantu mengeksplorasi kemungkinan visual.
Tetapi AI tidak otomatis mengetahui apa yang paling tepat untuk kebutuhan produksi.
Director, creative, cinematographer, atau producer tetap harus menentukan:
Apa yang ingin dilihat penonton?
Dari sudut mana adegan tersebut dilihat?
Apa yang perlu ditonjolkan?
Bagaimana shot tersebut berhubungan dengan shot berikutnya?
AI membantu mempercepat proses visualisasi, tetapi keputusan kreatif tetap berada pada manusia.

Kapan Storyboard AI Paling Berguna?
Storyboard AI dapat sangat membantu ketika:
- Anda punya ide tetapi tidak bisa menggambar.
- Anda tidak terbiasa membuat sketsa digital.
- Anda ingin cepat memvisualisasikan konsep sebelum shooting.
- Anda perlu membuat beberapa alternatif framing.
- Anda ingin menunjukkan gambaran visual kepada client.
- Anda memiliki script tetapi ingin melihat kemungkinan visualnya.
- Anda ingin mengeksplorasi karakter, lokasi, atau mood sebelum produksi.
Untuk tahap awal, bahkan visual yang belum sempurna sudah dapat memberikan manfaat besar karena membantu semua orang melihat gambaran yang sama.
Tetap Periksa Setiap Frame Sebelum Digunakan
Kecepatan bukan berarti semua hasil AI harus langsung diterima.
Sebelum sebuah frame dimasukkan ke storyboard final, periksa kembali apakah:
- karakter sesuai,
- lokasi sesuai,
- arah pandang masuk akal,
- framing sesuai kebutuhan,
- jumlah dan posisi objek benar,
- kontinuitas antar-frame terjaga,
- serta visual benar-benar menggambarkan isi script.
Jika ada yang tidak sesuai, frame dapat dibuat ulang atau diperbaiki.
Dalam workflow Production House, proses ini tetap penting karena storyboard bukan sekadar gambar untuk terlihat menarik. Storyboard merupakan alat komunikasi untuk membantu menerjemahkan ide menjadi visual yang dapat dipahami sebelum kamera benar-benar digunakan.

Kesimpulan
Storyboard AI memberikan alternatif bagi orang yang memiliki ide visual tetapi tidak memiliki kemampuan menggambar secara manual.
Dengan memasukkan deskripsi adegan, script, atau brief, AI dapat membantu menghasilkan visual yang kemudian digunakan sebagai referensi frame storyboard. Beberapa platform bahkan sudah mampu membantu memecah script menjadi scene dan frame sehingga proses visualisasi menjadi lebih terstruktur.
Namun, AI sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti proses kreatif.
AI membantu membuat gambar.
Manusia tetap menentukan shot apa yang dibutuhkan, bagaimana adegan dilihat, dan apakah visual tersebut benar-benar sesuai dengan cerita serta kebutuhan produksi.
Bagi orang yang sebelumnya kesulitan membuat storyboard karena tidak bisa menggambar, teknologi ini dapat menjadi cara yang lebih praktis untuk mengubah gambaran di kepala menjadi visual yang bisa dilihat dan didiskusikan bersama tim.
1 comment